Bisa Liburan ke Baduy Dalam

Bisa Liburan ke Baduy Dalam

Bisa Liburan ke Baduy Dalam – Dijumpai bersama saluran listrik di daerah DKI Jakarta, Banten dan beberapa Jawa Barat sampai Jawa tengah alami pemadaman pada Minggu (4/8) semenjak jam 11.44 WIB.

Banyak wilayah bahkan juga alami keadaan black out sepanjang belasan jam. Peristiwa mengagumkan ini tidak salah membuat rutinitas kota Jakarta dan sekelilingnya jadi terganggu.

Bisa Liburan ke Baduy Dalam, Dusun Tanpa Listrik dan Internet?

Akibatnya karena pemadaman listrik itu, trafik light di jalan raya juga tidak berperan, jaringan beberapa provider telekomunikasi roboh sampai transportasi massal seperti MRT, KRL Jabodetabek, KA Lapangan terbang dan LRT Jakarta terusik. Beberapa warga yang dapat terhubung internet terlihat banjiri timeline media sosial dengan keluh kesah #listrikpadam.

Saat itu juga, warga ibukota jadi cemas: listrik mati keseluruhan, jaringan telephone terganggu dan internet geret. Beberapa warganet menyambat kerjanya jadi terhalang, ada pula yang protes karena rutinitasnya terusik. Cukup banyak milenial yang menyebutkan mereka ‘mati style’ karena koneksi internet seakan hidup enggan mati tidak ingin.

Tetapi tahukah kamu, keadaan yang dirasakan Jakarta dan sekelilingnya pada Minggu siang sampai awal hari lalu sebagai keadaan yang setiap hari ditempuh oleh Suku Baduy Dalam?

Ya, untuk warga di kota besar seperti Jakarta, mati listrik massal lalu tentunya membuat cemas dan mati style. Tetapi, hidup tanpa listrik dan internet malah jadi opsi Suku Baduy Dalam.

Tidak ada saluran listrik dan internet bukan bermakna suku ini terisolasi. Untuk kamu, beberapa pelancong, bisa juga liburan ke dusun ini dan bermalam tadi malam di situ untuk rasakan kehidupan yang jauh dari hiruk pikuk kota.

Lalu seperti apakah sebenarnya kehidupan di Suku Baduy Dalam?

Suku Baduy sebagai barisan warga yang menetap di kaki Gunung Kendeng, Dusun Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten, memiliki jarak seputar 40 km dari kota Rangkasbitung.

Temperatur udara sekitar 20 derajat celcius. Di Baduy ada 56 daerah dan terdiri jadi 2 sisi besar, yakni Baduy Dalam yang terbagi dalam 3 daerah yakni Cibeo, Cikertawana dan Cikeusik dan Baduy Luar yang terbagi dalam 53 daerah. Di Baduy Dalam berikut, penduduknya hidup tanpa listrik, tanpa tehnologi, tanpa internet dan bebas dari pemakaian produk memiliki bahan kimia.

Taufik Hidayat, founder salah satunya tur and travel spesialis cultural trip Baduy, Tapak jejak Baduy, menerangkan warga Baduy Dalam mempunyai kehidupan yang paling unik. Sampai sekarang ini warga Baduy masih berdasar tegar pada pendirian tradisi mereka. Menurut Taufik, kehidupan di Baduy Dalam jauh dari kata eksklusif. Kebalikannya, semua kelihatan simpel.

Mereka menampik untuk dimoderinisasi, mereka cenderung pilih untuk menjaga nilai-nilai nenek moyang yang telah diturunkan dan masih mengikut ketentuan tradisi nenek moyang mereka. Di situ tidak ada handphone, karena ketentuan tradisi,” ungkapkan Taufik ke kumparan, Senin (5/8). Tidak itu saja, warga Baduy Dalam hidup seragam, dimulai dari warna baju (hitam untuk lelaki dan putih untuk wanita) sampai model rumah yang mereka tinggali.

Berdasar catatan Tapak jejak Baduy, pertama kali pelancong masuk di Baduy Dalam ialah pada medio 1990. Tetapi waktu itu pelancong yang bertandang terbatas, diantaranya cuman berawal dari kelompok mahasiswa pencinta alam.

Destinasi Wisata Liburan ke Baduy Dalam

Pada 1995, pelancong yang bertandang ke Baduy semakin ramai. Trend itu terus berkembang sampai awalnya tahun 2000-an dan pada akhirnya mulai tampil tur and travel yang layani open trip ke Baduy Dalam.

Lebih kurang dapat sampai 200 orang, karena mereka ingin tahu dengan kehidupan warga Baduy Dalam,” tutur Taufik.

Menurut Taufik, terciptanya Baduy Dalam jadi tempat rekreasi budaya tidak lepas dari kekhasan penduduknya yang masih menggenggam tegar nilai-nilai tradisi. Terhitung diantaranya menampik untuk di moderinasisi.

Sikap berikut yang selanjutnya pada akhirnya membuat pelancong malah jadi ingin tahu dengan kehidupan warga Baduy. Ditambahkan, pelancong yang bertandang di situ diharuskan untuk mengikut ketentuan itu. Maknanya, pelancong jangan memakai handphone terhitung berpose saat berkunjung Baduy Dalam.

Salah satunya pelancong yang ketarik dan pada akhirnya putuskan bertandang ke Baduy Dalam ialah Anggi Eriati Soetarto. Wanita yang dekat dipanggil Anggi ini turut dalam salah satunya open trip ke Baduy Pada dalam Juni 2019 kemarin.

Sebagai anak wanita kelahiran Lebak, Banten, Anggi berasa jika Suku Baduy sebagai sisi dari nenek moyangnya. Hati mempunyai ini membuat Anggi berasa harus harus tiba ke situ.

“Aku ingin tahu sama situasi di situ. Rupanya benar jika di Baduy Dalam itu tidak ada listrik sama sekalipun. Internet dan semua alat tehnologi tidak dibolehkan untuk dipakai,” cerita Anggi.

Jadi orang Sunda asli, Anggi juga berasa tidak cukup kesusahan untuk berhubungan dengan masyarakat lokal. Menurut dia, masyarakat Suku Baduy benar-benar ramah pada beberapa pelancong.

Bertandang sepanjang 2 hari satu malam rupanya mencatatkan kesan-kesan dalam untuk Anggi. Diantaranya mengganti langkah pandang Anggi pada kedatangan tehnologi dan internet.

Kenyataannya, saat di Baduy Dalam, aku mendapati kenyamanan di hati dan pemikiran aku,” sambungnya.

Masyarakat Baduy Senang Saluran Keyakinan Tercantum di KTP

Anggota Komisi II Fraksi Golkar Ace Hasan sampaikan jika diwujudkannya permintaan pencantuman keyakinan dalam kolom agama di KTP, disongsong senang masyarakat Baduy, Kabupaten Lebak, Banten.

Menurut Ace, sejauh ini masyarakat Baduy yang dikenali mempunyai keyakinan Sunda Wiwitan sudah lama perjuangkan pencantuman saluran kepercayaannya dalam kolom agama KTP.

Ace juga menjelaskan seluruh pihak harus bisa patuhi dan menghargai keputusan MK itu. Karena MK sudah putuskan berdasar pada dasar konstitusi negara kita.

“Semua masyarakat negara Indonesia mempunyai memiliki hak untuk diproteksi dalam beragama dan berkeyakinan sesuai agama dan kepercayaan masing-masing,” sebut Wasekjen Golkar itu.

Selanjutnya, Ace berbicara jika pencantuman keyakinan dalam KTP sebagai wujud pernyataan negara atas pelindungan pada keyakinan WNI tanpa diskriminasi kecuali 6 agama yang dianggap oleh negara.

Dengan begitu, Ace mengharap, Pemerintahan dalam masalah ini Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) harus selekasnya menindaklanjutinya.

Untuk berbagai informasi lainnya seputar wisata bisa langsung kunjungi situs https://piknik-asik.com