Bukti Adat Unik Seba Baduy

Bukti Adat Unik Seba Baduy

Nama Adat Unik Seba dari suku Baduy kemungkinan sudah tidak terlalu sefamiliar dengan warga yang menjaringnkannya.

Urang Kanekes atau yang lebih terkenal dikenali sebagai Baduy. Walaupun demikian, adat Seba ini sukses mengundang perhatian banyak warga.

Bukti Unik Adat Seba Baduy yang Perlu Kamu Tahu

Adat temurun itu sekarang bahkan juga tidak lagi sekedar jadi ritus semata. Tapi juga jadi sebuah moment yang ditunggu-tunggu hadirnya.

Baca Juga: Bisa Liburan ke Baduy Dalam

Karena kamu langsung bisa menyaksikan sendiri seperti apakah warga Baduy yang bertahan dengan kearifan lokalnya di tengah-tengah arus modernitas yang kuat.

Nach, kesempatan ini, kumparan sudah meringkas tujuh bukti unik masalah adat Seba Baduy yang penting kamu mengerti. Baca penjelasannya ini.

Dikerjakan Satu tahun Sekali

Adat Seba Baduy sebuah ritus tradisi yang sudah berjalan semenjak beberapa ratus tahun kemarin. Adat yang di turunkan dari leluhur Orang Baduy atau yang dikenali sebagai Urang Kanekes ini diselenggarakan satu tahun sekali.

Seba Baduy umumnya dikerjakan tiap tahun sesudah acara puasa sepanjang 3 bulan (Ngawalu) dan share pada saudara dan keluarga (Ngaraksa) usai dilaksanakan. Dalam kesempatan kali ini, semua warga Baduy, khususnya beberapa pria akan ikut turun gunung ke arah kota dan menghadap penguasa wilayah atau Penggede.

Di periode sekarang, beberapa orang yang diartikan sebagai Penggede, baik Ibu Gede atau Bapak Gede ialah beberapa orang yang memegang di roda pemerintah, seperti bupati dan gubernur. Karena, Suku Baduy tinggal di teritori Lebak, karena itu pimpinan wilayah tujuan ialah Bupati Lebak dan Gubernur Banten.

Tidak Mempunyai Agenda atau Tanggal Tentu Adat Unik Seba Baduy

Berlainan dengan adat atau pertunjukan rekreasi biasanya, Seba Baduy tidak mempunyai tanggal tentu dalam penyelenggaraannya. Menurut pembicaraan Plt Kadispar Lebak Imam, warga Baduy memakai kalender dan penanggalan yang lain dengan yang umum kamu pakai di kehidupan setiap hari.

Agar bisa tentukan kapan Seba Baduy akan dikerjakan, pemerintahan di tempat atau Kemenparekraf perlu menanti agenda dari Puun atau figur tradisi. Agenda Seba akan dijumpai sesudah Puun terima wangsit dan sampaikannya pada pemerintahan di tempat.

“Nach, Baduy antiknya di sana. Sehingga kita, pemerintahan, tidak dapat mendesak, harus tanggal demikian, bulan ini. Kita malah menanti wangsit atau menanti petuah dari Puun, sampaikan ke pemerintahan umumnya berupa surat,” tutur Imam.

Adat Penyerahan Hasil Bumi

Dengan bahasa Baduy, “Seba” bermakna seserahan. Karena itu tidak bingung bila pada acara ini, warga Baduy akan turun gunung membawa juga hasil pertanian atau hasil bumi mereka. Dimulai dari pisang, padi, durian, gula aren, dan palawija.

Semua hasil pertanian itu akan dibawa ke kota untuk dikasih ke Penggede. Penyerahan seserahan ini jadi langkah mereka merealisasikan rasa hormat pada pimpinan-pimpinan di wilayah sekalian bersilaturahmi. Adat Seba mempunyai makna jika Urang Kanekes akui sebagai sisi dari Republik Indonesia

Sebagai Media Dialog dan Pengutaraan Warisan

Di luar perannya sebagai adat penyerahan hasil pertanian sebagai wujud perkataan sukur dan bersilahturahmi, adat Seba Baduy diperlengkapi pengutaraan warisan dari nenek moyang oleh beberapa tokoh tradisi. Pada dasarnya, warisan yang dikatakan tidak jauh dari anjuran untuk jaga lingkungan dan kelestarian alam.

Tetapi, dalam beberapa peluang, ada juga makna-makna yang lain tersisip didalamnya. Namun karena tidak dikatakan secara jelas, tidak seluruh orang bisa pahami warisan itu.

Salah satunya contoh ialah saat terjadi Tsunami Selat Sunda di akhir 2018 kemarin. Peristiwa itu ternyata sudah ‘diramalkan’ warga Baduy semenjak jauh hari. Karena itu, tiap warisan yang dikatakan Urang Kanekes pada bupati atau gubernur akan jadi catatan dalam ambil sikap.

Adat Unik Seba Baduy  Dirayakan oleh Baduy Luar dan Baduy Dalam

Secara pola hidup, Baduy Luar dan Baduy Dalam mempunyai ketidaksamaan yang cukup berarti. Warga Baduy Luar cukup terbuka pada info dan tehnologi. Mereka mau kenakan pakaian warna dan berpenampilan seperti kaus dan celana panjang.

Baduy Luar juga memakai tehnologi, seperti hp atau listrik. Sementara Baduy Dalam masih betul-betul kekeuh dengan keputusannya. Hidup tanpa tehnologi kekinian.

Tetapi, dalam adat Seba Baduy, ke-2 komune Baduy ini akan bergabung dan berjalan bersama dari Lebak ke arah tempat tinggal Gubernur untuk memberi persembahan terbaik hasil dari bumi mereka.

Masuk di Di dalam 100 Calendar of Moment (COE) Kementerian Pariwisata

Adat Seba Baduy sebagai kearifan lokal yang memikat banyak perhatian, baik di kelompok pelancong lokal atau luar negeri. Karena itu, tidak bingung jika moment ini masuk ke 100 Calendar of Moment Kementerian Pariwisata Indonesia.

Kecuali dapat mengenalkan kekayaan budaya Indonesia, khususnya Baduy, di dunia luar, masuknya Seba di dalam 100 CoE jadi langkah pemerintahan di tempat dalam melestarikan kearifan lokal. Selain itu, kedatangan Festival Seba Baduy memberi imbas positif untuk keadaan sosial dan ekonomi warga di Lebak dan sekelilingnya.

Dituruti Beberapa ribu Orang Baduy

Karena jadi sebuah acara wajib di dalam budaya warga Baduy, karena itu setiap adat Seba dikerjakan, jumlah pesertanya bisa capai beberapa ribu orang. Baik Baduy Dalam atau Baduy Luar akan berjalan kaki bersama, sekalian bawa seserahan mereka.

Baduy Luar umumnya kenakan pakaian hitam dengan ikat kepala warna biru. Sementara Baduy Dalam akan kenakan pakaian dan ikat kepala warna putih.

Disamping itu, Baduy Luar dibolehkan memakai kendaraan motor, baik itu motor atau mobil. Kebalikannya, Baduy Dalam tidak dibolehkan memakai kendaraan motor sama sekalipun. Menumpangi kendaraan motor bermakna menyalahi ketetapan dalam tradisi.

Hebat dan sangat bagus, ya, bukti unik dari adat Seba Baduy ini. Kamu pernah melihatnya?

Adat Unik Seba Baduy dan Warisan Beberapa Nenek moyang

Adat Seba Baduy tidak hanya masalah memberikan hasil pertanian secara suka-rela saja sebagai perkataan sukur dan wujud bersilahturahmi. Ada warisan yang ikut juga menyertainya. Warisan ini umumnya dikatakan oleh Puun berdasar wangsit yang diterimanya dari nenek moyang.

Tidak boleh pikirkan warisannya berupa surat yang berisi pembagian harta gono-gini, sama seperti yang dapat kamu dapatkan dalam beberapa film roman picisan di monitor kaca. Warisan yang dikatakan Puun Baduy punyai arti yang lebih dalam.

Pada dasarnya, warisan itu umumnya mengingati pemerintahan untuk selalu jaga kelestarian alam. Tetapi secara implisit, tanpa diakui, karena memakai syair lama dan dinyanyikan seperti langgam, tidak seluruhnya orang bisa pahami makna dari warisan itu, sampai kecurian dan tidak punyai langkah mengatasi bencana.

Menurut pembicaraan Imam, kerap kali warisan yang dikatakan Urang Kanekes saat Seba mempunyai ketergantungan dengan peristiwa-kejadian di periode kedepan. Oleh karenanya, warisan dari mereka akan dikatakan pada bupati dan gubernur supaya menjadi catatan, dan ambil sikap.

Salah satunya misalnya ialah peristiwa tsunami Selat Sunda yang terjadi pada 22 Desember 2018 kemarin. Tsunami yang tewaskan 437 orang dan melelehlantakkan Tanjung Lesung dan pesisir Lampung itu kenyataannya pernah diramalkan oleh warga Baduy, meskipun tidak dikatakan secara jelas.

Penyampaiannya juga tidak asal-asalan, ada ritus penyampaiannya tertentu. Bahasa Sunda yang digunakan sebagai bahasa lama yang cuman dimengerti oleh tetua-tetua tradisi. Acara pengutaraan warisan itu jadi sesion diskusi untuk Urang Kanekes bersama-sama dengan pemda dengan arah jaga lingkungan, khususnya alam, supaya masih lestari.

“Bahasa kita, kan, megatra. Jika bahasa mereka berhati-hati, ada riwayat ceritanya. Wilayah ini kelak harus dicuci dengan air garam. Kayak-kayak bahasa itu, remeh, tetapi cocok ada peristiwa, dicuci air garam, bermakna rupanya air laut masuk di dataran. Maka untuk menyucikan kembali warga, ceunah. Harus dicuci, pembersihannya harus mandi sama air garam,” Plt Kadispar Lebak

Upeti versus Perkataan Sukur

Di masa lampau, khususnya pada periode classic saat Indonesia terbagi dalam bermacam jenis kerajaan, ada upeti yang perlu disembahkan oleh satu faksi ke faksi yang lain sebagai bukti kesetiaan dan runduk kepada pihak yang lebih berkuasa. Upeti mempunyai karakter yang harus, hingga pada periode lalu, tanpa upeti, kerajaan tidak dapat bertahan, apa lagi besar.

Asep Kambali bercerita jika upeti umumnya ditampilkan oleh warga untuk penguasa di tempat dengan dikoordinasi oleh faksi tertentu. Sebagai imbalannya, penguasa umumnya akan jaga teritori itu.

Sekilas, adat Seba kemungkinan terlihat seperti acara penyerahan upeti sama seperti yang terjadi di masa lampau. Lalu, apa adat Seba di periode sekarang yang berbentuk penyuaraan sukur sebagai wujud penyerahan upeti yang sudah alami peralihan arti?

Asep Kambali sendiri tidak bisa menentukannya, namun, menurut dia sebuah adat tidak tampil tanpa ide atau orang yang menginisiasi. Dalam masalah ini, yang kemungkinan menginisiasi Seba Baduy ialah Penggede.